Tangan yang menggoncang dunia..

– diambil daripada blog Wanita ISMA Petaling Jaya dalam artikel Tangan Ibunda, Mengguncang Dunia

Sayyid Qutb adalah seorang tokoh yang begitu dekat dengan mereka yang terjun ke medan dakwah. Beberapa tulisannya menjadi sumber dan acuan para generasi Islam untuk terus memancarkan kalimat tauhid. Karangan beliau seperti tafsir Fi Dzhilal al Quran, umumnya telah menjadi teman akrab para pendakwah untuk menyalakan suluh dakwah Islam di perbagai tempat. Namun, tidak banyak yang mengenali kehidupan beliau secara mendalam. Tidak banyak informasi yang diketengahkan kepada para pembaca tentang latar belakang keluarganya yang sudah barang tentu memberikan kesan yang besar pada pembentukan peribadi Sayyid Qutb. Artikel ini mengajak pada kita manfaatkan kesempatan ini untuk mengenal lebih jauh tokoh ibu, sang pendidik pahlawan yang menjadi sendi penting di dalam ketokohan Sayyid Qutb. Semoga ini menjadi dorongan kepada setiap wanita muslimah terutama para pengembang dakwah hari ini untuk menggembeleng peranan dan potensi mereka ke arah natijah lebih kuat di tengah zaman yang penuh ujian ini.

Ibunda Sayyid Qutb berasal dari keluarga yang mulia. Menikah dengan Qutb Ibrahim, ayah Sayyid Qutb sebagai istri kedua dan tinggal bersama-sama Qutb Ibrahim di Kairo. Bunda Sayyid Qutb memilki empat orang anak. Sayyid Qutb dibesarkan oleh seorang ibu yang memiliki kesempurnaan sifat sebagai seorang wanita solehah dan berjiwa kuat. Ia seorang pemurah dan terkenal banyak bersedekah. Ia juga gemar memasak makanan untuk pekerjanya diladang serta untuk para tamu yang datang mengaji dirumahnya. Bunda Sayyid Qutb tidak pernah menganggap semua ini sebagai beban karena ia menjadikan amal tersebut sebagai bahagian dari upayanya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amal seperti ini memang sudah menjadi tradisi seorang isteri yang mendampingi para juru dakwah dirumah yang kerap digunakan untuk dakwah islam.

Bunda Sayyid Qutb juga gemar mendengar bacaan Al Quran, malah beliau dikenal mudah terpengaruh dan terkesan dengan ayat-ayat yang dibaca. Hal ini dijelaskan oleh Sayyid Qutb dalam salah satu buku karangannya:

“Setiap kali engkau asyik mendengarkan tilawah Al Quran dibelakang tabir oleh para Qurra yang datang mengaji ke rumah kita sepanjang bulan Ramadhan. Seandainya aku tergiur dan ingin bermain-main seperti kanak-kanak yang lain, engkau akan mengisyaratkan padaku dengan tegas sehingga aku terdiam dan turut menyertaimu mendengar bacaan Al Quran. Dari situlah jiwaku mulai meneguk irama Al Quran walaupun walaupun dengan usiaku yang masih kecil, belum mampu memahami makna bacaan itu..”

“Ketika aku besar dalam penjagaanmu, aku telah di hantar ke Madrasah Awwaliyyah di kampung. Harapan terbesarmu kepadaku adalah supaya Allah membukakan jalan bagiku untuk menghafal al Quran dan direzekikan kepadaku suara lunak untuk membacanya. Sesungguhnya, setelah itu aku sering membacakan Al Quran untukmu….Kini Engkau telah pergi meninggalkanku, wahai bunda tersayang. Gambaran terakhir dirimu yang senantiasa segar diingatkanku adalah samar-samar dirimu yang sering duduk di hadapan radio, mendengar keindahan bacaan-bacaan al quran. Amat jelas lekuk-lekuk keindahan wajahmu yang mulia, tanda-tanda penghayatanmu terhadap makna yang tersurat lagi tersirat kalimah Al Quran itu, dengan hatimu yang agung dan perasaan halusmu yang merenung.” (at Taswir al Fanni fi al Quran).

Sayyid adalah anak sulung laki-laki disamping saudaranya yang lain, Aminah, Hamidah dan Muhammad. Bunda Sayyid Qutb, wanita yang berjiwa besar ini telah membesarkan anaknya, Sayyid, dengan sepenuh hati. Pada “Sayyid”lah dia letakkan segala harapan, lalu ia membesarkannya dengan iman, kemuliaan dan memikul tanggungjawab. Bahkan Ibunda Sayyid Qutb ingin menjadikan anaknya dewasa lebih awal dari biasanya. Sayyid sering ditiupkan jiwa kedewasaan sehingga dia acapkali menghindarkan diri dari suasana anak-anak yang mengiringi masa kanak-kanaknya.

Sesungguhnya ibunda Sayyid Qutb telah menggabungkan dua unsur penting yang membina kepribadian mujahid dan mujadid ini. Beliau limpahkan sepenuh rasa kasih sayang dan kemanjaan seorang ibu kepada anak, tapi kasih sayang itu disiram dengan keakraban al Quran. Kasih sayang itu bukanlah kemanjaan yang membinasakan proses pembinaan jati diri anaknya, kerana di dalam kemanjaan itu, ibunda Sayyid Qutb membina keyakinan diri yang tinggi di dalam anaknya supaya membesar sebagai seorang yang berjiwa agung. Bahkan dalam hal ini, ia sangat ingat nasihat sang Bunda sebagaimana dituliskan:

“Bunda…

“Siapakah yang setelah ini akan menceritakan kisah taman kanak-kanakku, seakan-akan ia adalah sebuah peristiwa yang baru semalam terjadi? Siapakah lagi yang akan membayangkan kepadaku zaman untuk dibawa kembali bayangannya kepada kehidupan dan kepada alam wujud ini selanjutnya?”

“Engkau telah memberikan gambaran terhadapku bahawa diriku adalah insan yang istimewa semenjak aku masih berada dalam buaian kehidupan. Kau sering ceritakan kepadaku tentang impianmu yang lahir, yang merangkak-rangkak terserap kedalam jatidiriku bahwa aku adalah seorang yang mulia. Ia telah menjelaskan kepadaku tentang suatu tanggung jawab yang besar dan semua itu adalah impianmu terhadapku dan ‘wahyu’ bisikan hatimu. Siapakah nanti yang akan membisikkan kepadaku khayalan-khayalan yang membara itu? Siapakah lagi yang akan meniupkan dorongan kedalam hatiku?”

Benar kata pepatah, “tangan yang mengayun buaian itu bisa mengguncang dunia”. Sentuhan tangan seorang ibu telah melahirkan seorang mujahid seperti Sayyid Qutb, yang limpahan hikmahnya terus mengalir deras ke jiwa pejuang islam. Di tengah arus zaman seperti sekarang ini, diantara kian kerasnya tantangan dakwah yang kita hadapi saat ini, kisah perjalanan Sayyid Qutb semoga memunculkan kesedaran dan kerendahan hati kita untuk benar-benar membentengi keluarga. Kelak, anak-anak kita Insya Allah akan hidup di zaman yang tentangan hidupnya berlipat-lipat dari apa yang sekarang kita lewati hari ini. Mereka, anak-anak kita, adalah bukan sekadar anak kita tetapi anak zamannya.

– diambil daripada blog Wanita ISMA Petaling Jaya dalam artikel Tangan Ibunda, Mengguncang Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: