Peringatan dari pejuang untuk pejuang..

– diambil daripada blog Faridul Farhan Abdul Wahab iaitu Tadabbur al-Engineer dalam entri Teguran Buat Mujahidah Da’wah –

Dengan Nama ALLAH yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

“Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

(Surah an-Nisa’ [4]:9)

Ucapkanlah “qoulan syadida”. Begitulah perintah ALLAH SWT. Perintah yang membuatkan saya, sungguh pun tersangat sibuk menjayakan tugas dan amanah sebagai engineer, namun harus mencoretkan sesuatu sebagai teguran sekaligus tazkirah buat mujahidah da’wah, agar sikap dan mind-set (fikrah) tidak menyimpang daripada sikap dan fikrah sebenar seorang mujahidah da’wah.

Sangat aneh tatkala student universiti sudah pandai memberikan alasan “sibuk” untuk alpa dan tidak bersungguh dalam da’wah. Apakah mereka menyangka bahawa bila tiba di alam kerjaya, kesibukan itu akan hilang? Adakah mereka menyangka betapa mujahid-mujahid da’wah yang telah menginfakkan dirinya, keluarganya, hartanya dan seluruh hidupnya di jalan ALLAH, adalah bukan student atau pekerja seperti mereka, sehinggakan mereka tidak pernah disibukkan dengan urusan pembelajaran atau pekerjaan? Katakan saja anda tidak cintakan Islam, kerana jika benar anda cintakan Islam, mana mungkin semudah dan semurah itu alasan akan anda berikan. Janganlah anda menghina para mujahid da’wah, seakan-akan mereka ini tidak pernah sibuk hinggakan sentiasa mempunyai masa untuk diberikannya pada jalan ALLAH. Janganlah anda menghina Abu Bakar as-Siddiq R.A, Umar al-Khattab R.A, dan sahabat-sahabat lain R.A, para tabi’in, tabi’it tabi’in, Hassan al-Banna, Yusuf al-Qaradhawi, dan lain-lain, yang hidup mereka full time sebagai pendakwah, sedang part time mereka sebagai cikgu, atau peniaga, atau engineer dan sebagainya, dengan menganggap mereka-mereka ini tidak pernah bertembung dengan kesibukan duniawi. Mereka juga sibuk, tapi cinta mereka pada ALLAH, Rasul dan Islam mengatasi kesibukan duniawi mereka.

Namun, dengan amanah sebagai engineer dan sebagai murabbi sehari-hari, terpaksa saya ringkaskan qoulan syadida ini, mudah-mudahan tetap bermanfaat buat mereka yang benar-benar sudi menjadi mujahidah da’wah.

Menyempurnakan separuh daripada agama

Umum tahu betapa pernikahan menyempurnakan separuh daripada agama. Bahawa pernikahan memelihara diri kita daripada terjerumus ke lembah maksiat. Bahawa pernikahan itu bisa bernilai ibadah. Bahawa pernikahan itu umpama mendirikan masjid. Haidth-hadith tentang itu semua, tentunya kalian sedia maklum.

Mujahid dan mujahidah da’wah, yang benar-benar komited terhadap da’wah, tentunya dan pastinya akan menghadapi pelbagai macam kesulitan, halangan dan rintangan. Itulah lumrah dan adat jalan da’wah. Bagi yang belum merasakannya, kesimpulannya mudah: anda belum berda’wah! Atau anda tidak ikhlas berda’wah hingga tidak layak diuji! Atau anda mengambil jalan yang menyimpang daripada jalan da’wah! Noktah. Tidak perlu argument di situ.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

(Surah al-Baqarah [2]:214)

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

(Surah al-Ankabut [29]:2-3)

Diuji dalam surah al-Ankabut di atas, bukan sekadar uji. Ia ujian yang sangat berat, kerana ALLAH menggunakan perkataan “fa-ta-na” di situ, bukan sekadar “imtihan”. Ertinyqa, ujian itu sangat berat, persis seperti orang yang difitnah, lantaran perkataan fitnah saja berakar kata dari fa-ta-na tadi.

Oleh kerana itulah, untuk menstabilkan emosi dan perasaan para mujahid da’wah, perlunya mereka bercepa-cepat kepada pernikahan, lantaran pernikahan menghasilkan stability (Sakinah) atau ketenangan, seperti yang diungkapkan oleh ALLAh SWT di dalam al-Quran; 

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”

(Surah al-A’raf [7]:189)

Maka, wajar saja mereka yang tidak memilih pernikahan sebagai stabilizer dikatakan bengong atau terburuk oleh Nabi-Nya SAW;

“Orang yang paling buruk di antara kamu adalah para pembujang, dan di antara orang-orang mati yang terburuk adalah orang yang mati dalam keadaan membujang.”

(Hadith riwayat Abu Ya’la dan Thabrani)

Namun, pernikahan pula, seharus dan sewajarnya mengikut tatacara dan tatasusila yang digariskan oleh Nabi SAW;

“Nikah itu adalah sebahagian sunnahku maka orang yang tidak mengamalkan sunnahku, dia tidak termasuk umatku.”

(Hadith riwayat Ibnu Jauzi)

Ertinya bukan pada nikah itu saja menjadi sunnah, tetapi tentulah cara, prosedur dan etika kepada pernikahan juga, harus, wajar dan perlu mengikut sunnah! Kerana pernikahan yang berpandukan sunnah, adalah pernikahan yang diniatkan untuk semakin dekat dan semakin rapat dengan ALLAH SWT. Bagaimana mungkin pernikahan yang dicemari oleh cinta “anta-anti” dan zina hati, bisa membawa kepada kecintaan kepada Ilahi?

Mana mungkin! Itulah sebabnya, tatkala ALLAH SWT –di dalam ayat yang lain- mahu menceritakan tentang betapa isteri-isteri/suami-suami mendatangkan cinta dan belas kasih, ALLAH mulakan dengan menyebut “di Antara tanda-tanda kekuasaan-Nya”, kerana sepatutnya pada pasangan hidup anda itu, akan anda dapati tanda-tanda kekuasaan ALLAH.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

(Surah ar-Ruum [30]:21)

Lalu, jika perjalanan anda saja menuju pernikahan itu sudah dipenuhi noda dosa, khalwat di alam maya, zina hati dan lain sebagainya, bagaimana mungkin anda melihat tanda-tanda kekuasaan ALLAH pada pasangan anda itu, sedangkan anda sedang melakukan maksiat kepada ALLAH?

Hadith Arbain 1: Setiap sesuatu bermula dengan niat

Kerana pernikahan itu harus bersandarkan sunnah, maka saksikan sendiri guideline daripada Rasulmu SAW;

“Wanita itu lazimnya dinikahi kerana empat perkara:

 i) kerna hartanya

ii) kerana keturunannya

iii) kerana kecantikannya

iv) kerana agamanya

maka pilihlah wanita yang mempunyai agama, (jika tidak) maka binasalah engkau.”

(Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

Simple. Hanya orang-orang yang mempunyai niat yang berlainan dengan niat yang sepatutnya dimiliki oleh setiap mereka yang mengikut sunnah nabi-Nya SAW –dengan memilih jodoh berasaskan factor agama- yang akan terpinga-pinga dalam menentukan bagaimana calon yang beragama itu. Adakah beragama seseorang itu, andainya ia jauh daripada medan perjuangan Islam, sedangkan para sahabat R.A menjadikan perjuangan Islam sebagai matlamat dan kerjaya nombor satu mereka? Adakah beragama seseorang yang tidak merasa ghairah untuk melazimkan bacaan al-Quran setiap hari? Adakah beragama seseorang yang tidak henti-henti berbicara dengan lawan jantina, hingga terkadang membawa kepada berdua-duaan di alam siber, sedangkan perbicaraan yang dilakukan adalah perbicaraan yang tidak penting dan tidak perlu sebenarnya? Adakah beragama seseorang yang tanpa segan silu membiarkan hatinya terjebak dengan zina?

“Tertulis ke atas anak Adam habuan daripada zina, tidak mustahil didapati yang demikian.

Matanya berzina lewat pandangan.

Telingannya berzina lewat pendengaran.

Lisannya berbicara lewat percakapan.

Tangannya berzina lewat sentuhan.

Kakinya berzina lewat melangkah ke tempat maksiat.

Hatinya berzina lantaran bernafsu dan berangan-angan.

Dan kemaluannyalah yang membenarkan atau menidakkan (terjadinya zina itu).”

(Hadith riwayat Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Itulah sebabnya, al-Quran al-Karim menggariskan guideline jika ingin berbicara dengan lawan jantina, demi menjaga masalah zina hati ini.

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik,”

(Surah al-Ahzab [33]:32)

Itulah sebabnya Islam meminta kita bersama menundukkan pandangan. Nah, kalau menundukkan pandangan saja suatu yang ditegaskan, maka adakah boleh kita bersembang dan bergurau dengan lawan berlainan jantina tanpa urusan yang mustahak?

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

(Surah an-Nuur [24]:31)

Lagu “Antara Dua” Nyanyian Farah

Lebih malang lagi, adalah tatkala ada di kalangan mujahidah da’wah tidak benar-benar memutuskan hubungan dengan lelaki lain, tiba-tiba sebegitu berani membuka ruang untuk lelaki lain pula. Seolah-olah ia ingin menjadi seperti lagu Farah “Antara Dua”, iaitu harus mengumpulkan sebanyak lelaki yang ada, barulah ia memilih calon suami yang sesuai. AstaghfiruLLAH al-Azim! Wahai wanita muslimah, takutlah kamu pada ALLAH! Tidakkah kamu pernah mendengar sabda Nabi SAW yang mulia;

Janganlah seseorang meminang pinangan saudaranya, sehingga peminang itu meninggalkannya atau mengizinkannya.”

(Hadith riwayat Bukhari)

Nah, selagi anda tidak benar-benar putuskan hubungan anda dengan seseorang lelaki yang menyatakan minatnya pada anda, bagaimana mungkin seorang lelaki lain mahu menyatakan hasratnya untuk melamar anda? Hal ini dilarang oleh agama! Pertanyakan kembali niat anda; jika benar anda ingin menikah kerana ALLAH, maka anda sentiasa sanggup memutuskan dan menjauhi insan yang tidak memenuhi criteria mujahid da’wah yang sekufu dengan anda, lalu anda tidak kisah akan lain-lain criteria bakal suami anda, asalkan saja ia mujahid da’wah. Jika tidak, maka layakkah anda menjadi mujahidah da’wah?

Penutup

Akhirnya, saya terpaksa juga menegur gerakan-gerakan Islam yang tidak serius dan tidak menekankan keharusan menjaga interaksi antara lawan jantina. Saya menegur gerakan Islam yang tidak bersungguh membina kadernya dengan tarbiyah Islamiyah yang benar. Saya menegur gerakan islam yang tidak memerhatikan urusan hati dan interaksi para kadernya. Dan saya nasihatkan para mujahidah da’wah, agar kembalilah kepada niat, tujuan dan prosedur yang betul. Iaitu;

1) betulkan dan ikhlaskan niat
2) lobi mak ayah 
3) mudahkan urusan pernikahan.

Untuk kesekian kali, perasaan saya begitu diguris melihatkan insan-insan yang mengaku berada di dalam gerakan Islam, tapi menganggap urusan cinta kerana ALLAH sebagai suatu bahan mainan. Ingatlah, pasangan hidup anda itu bukanlah hak milik -bererti tidak bisa dibeli, demanding, dan lain-lain barang duniawi yang bisa dihak miliki- tetapi ia adalah anugerah. Anugerah daripada siapa? Anugerah dari Ilahi. Lalu, dengan pemahaman seperti ini, anda akan benar-benar menjadi mujahidah da’wah, dan menyerahkan kepada ALLAH untuk menganugerahkan buat anda teman sehidup semati. Maka benarlah kata Rahim Razali; “isteri itu bukannya hak milik, tapi anugerah….”

– diambil daripada blog Faridul Farhan Abdul Wahab iaitu Tadabbur al-Engineer dalam entri Teguran Buat Mujahidah Da’wah –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: