Memutuskan tali silaturrahim..

di petik dari koleksi soal jawab masalah agama di website darul nu’man.

Soalan 205.

Memutuskan Tali Silaturrahim

Soalan:

Saya ada perselisihan faham dengan seorang kawan. Untuk tidak mahu memanjangkan masalah, saya memohon kemaafan atas dasar ingin menjalinkan semula persahabatan. Tapi kawan saya langsung tidak menunjukkan minat untuk berbaik semula.Adakah dosa saya memutuskan silaturrahim terhapus jika sikap saya telah memohon maaf, tapi tidak dipedulikannya?

Dir, Melaka

Jawapan:

    Sebagai seorang Islam, sewajarnyalah kita memohon kemaafan kepada seseorang jika kita telah melakukan kesalahan terhadapnya. Jika kita telah minta maaf terpulanglah kepada orang tersebut, apakah ia ingin memaafkannya atau sebaliknya, kerana selaku manusia kita tidak dapat terlepas daripada melakukan kesilapan dan kesalahan. Tapi jangan pula kita memutuskan tali silaturrahim lantaran sikapnya yang acuh tak acuh.   

Memutuskan silaturrahim menyebabkan seseorang memperoleh hukuman dengan segera ketika berada di dunia lagi. Sebagaimana  diterangkan dalam sebuah hadis daripada Abu Bakar ra. bahawa baginda SAW bersabda yang bermaksud:

“Tidak ada dosa yang lebih layak dipercepat hukumannya di dunia, dan apa yang dipersiapkan Allah baginya di akhirat daripada tindakan kezaliman dan memutuskan hubungan silaturrahim”.

(Hadith Riwayat Ibnu Majah dan Tarmizi)

    Sesungguhnya tidak rugi jika kita sentiasa mempererat tali silaturrahim, kerana ia menyebabkan dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umur. Rasulullah SAW bersabda maksudnya:

“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, hendaklah ia memelihara hubungan silaturrahim”.

(Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)

artikel seterusnya adalah salah satu artikel harun yahya

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”

(Surah al-A’raf [7]:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(Surah an-Nur [24]:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur’an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

“… dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(Surah at-Taghaabun [64]:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur’an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji.

“Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.”

(Surah asy-Syura [42]:43)

Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an,

“…menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.”

(Surah ali-‘Imraan [3]:134)

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur’an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul “Forgiveness” [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

8 comments
  1. FaisaL said:

    “Doa seorang hamba selalu akan terkabul, selama ia tidak berdoa untuk sebuah dosa, memutuskan tali silaturrahim, dan tidak tergesa gesa.”

    (Hadith Riwayat Muslim dan Abu Hurairah)

    memutuskan silaturrahim boleh menjadi hijab perjalanan kata menuju ke langit.. lalu kita persoalkan apakah Allah itu tidak mendengar?.. na’uzubillahi min zalik.. mengapa banyak sekali masalah aku.. apa salah aku?.. adakah Allah tidak sayang pada aku?.. sebegitu sekali persoalan kita.. na’uzubillahi min zalik.. kita sibuk mempersoalkan yang lain.. kita asyik bersedih, kita asyik memperingati nasib malang kita.. tapi kita lupa, adakah kita telah buat seperti mana Allah suruh.. adakah benar kita ikut apa yang Allah turunkan?.. sepertinya, kita ini laksana pekerja yang diarahkan membuat sesuatu kerja, dan diberi upah untuk kerja-kerja kita, tapi kita tidak melaksanakannya, kemudian bisinglah kita apabila gaji kita tidak diberi.. padahal salah siapa?..

    kata-kata ini kena pada diri sendiri dahulu sebelum kepada orang lain, kerana diri ini yang menulis.. andai ada yang tersilap dengan sahabat-sahabat.. sangat dikesali.. manusia punya perasaan.. boleh sakit hati dengan perbuatan orang lain.. tapi, yang terbaik bagi umat islam ialah memaafkan dan melupakan.. kembali erat dan teguh.. matlamat kita islam teetegak, biar lambat, tapi kita ada di dalamnya.. jangan terlepas peluang menyertainya.. kerana kelak bila dibangunkan, modal apakah yang hendak kita tunjukkan pada Allah, yang hendak kita katakan bahawa kita berbeza daripada orang lain, dan lebih layak dipandang terlebih dahulu dari orang lain di padang mahsyar.. moga terus bersatu membantu agama Allah.. memaafkan perkara silam.. memperteguhkan ikatan ukhwah.. maafkan segala kesilapan diri ini.. maaf.. moga Allah membalas keikhlasan kalian dengan balasan yang setimpal.. sesungguhnya Allah itu Maha ‘Adil..

  2. Terima kasih atas peringatan ini. Moga-moga dapat memberi manfaat yg banyak kepada kita semua agar dapat membersihkan karat2 di hati justeru dapat memperbaiki hubungan siratulrahim dengan semua pihak. Sesungguhnya sbg manusia kita tidak lari dari kesilapan dan Allah jualah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

  3. FaisaL said:

    insyaAllah.. ukhwah dalam islam adalah satu elemen penting dalam menegakkan syiar islam.. tanpa ukhwah tidak akan terjelma khilafah..

    dan setiap manusia memang melakukan kesilapan.. seperti mana sabda Rasulullahi sallallahu ‘alaihi wa sallam..

    “setiap anak adam akan sering melakukan kesilapan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesilapan adalah mereka yang bertaubat.”

    (Hadith Riwayat at-Tirmizi)

    dan apabila salahnya dengan manusia.. maka perlulah kita meminta maaf sesama kita.. dan memaafkan sahabat atau kenalan atau sesiapa sahaja saudara seislam ataupun bukan sekalipun.. ianya satu kebajikan yang besar.. memaafkan dengan ikhlas merupakan satu akhlak mulia yang tinggi martabatnya.. moga kita dapat merendahkan diri.. menurunkan ego.. melupakan kisah silam yang pahit.. menuju kepada sesuatu yang baru dan manis.. dengan bermula dari meminta maaf dan memberi kemaafan.. insyaAllah..

    alangkah indahnya hidup kerana Allah..
    bertemu berpisah hanya keranaNya..
    bersatu berukhwah kerana tauhid kepadaNya..
    berjuang bersama demi untukNya..

    insyaAllah..

  4. emafha said:

    salam…bagaimana pula seseorang itu memutuskan silaturahim kerana mengikut wasiat si mati pada yg hidup?
    sehingga ke hari ini yg hidup itu masih meneruskan wasiat itu…

  5. salam.

    pertamanya, maaf.. saya bukan seorang ustaz mahupun seorang yang ahli untuk menjawab persoalan ini..

    tetapi saya ada teringat bahawa, perkara yang di luar syariat tidak perlu ditaati.. namun begitu, setiap hukum itu mengikut konteks dan waqi’nya.. oleh itu, saya tidak tahu jawapan kepada soalan ini.. sebaiknya dirujuk kepada para asatizah yang lebih arif mengenai soal hukum dan feqah..

    semoga mendapat jawapan yang jelas untuk terus beramal, semoga kita diampunkan segala dosa dan kesalahan atas kedangkalan ilmu kita.. amin.

  6. hairi said:

    Minta dikongsi bahan bacaan ni…

    • lasiaf87 said:

      silakan.

  7. farrah said:

    saya rasa saya telah memutuskan ikata kawan saya dengan kekasihnya.adakah saya dikira telah melakukan dosa walaupun sebenarnya saya tahu kekasih rakan saya baik orangnya dan secocok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 334 other followers

%d bloggers like this: